Wacana pemerintah untuk menutup program studi (prodi) yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri menuai perhatian luas. Kebijakan yang dilaporkan oleh Tempo ini diposisikan sebagai langkah rasional: menyelaraskan pendidikan tinggi dengan dunia kerja.
Namun, di balik logika efisiensi tersebut, muncul pertanyaan yang lebih mendasar—apakah pendidikan tinggi memang harus sepenuhnya tunduk pada kebutuhan industri?
Pandangan kritis disampaikan oleh Anies Baswedan melalui akun X miliknya. Ia mengingatkan bahwa kebijakan yang tampak tepat dalam jangka pendek bisa membawa konsekuensi yang tidak sederhana.
“Ada kebijakan yang tampak efisien dalam jangka pendek, tapi bila tidak hati-hati, justru membelokkan arah perjalanan bangsa dalam jangka panjang.”
Pernyataan ini tidak sekadar kritik, melainkan peringatan: bahwa arah pendidikan tidak boleh ditentukan hanya oleh kebutuhan pasar hari ini.
Ketika Pendidikan Dipersempit Menjadi Alat Industri
Ilmu murni selama ini kerap diposisikan sebagai sesuatu yang jauh dari praktik. Tidak menghasilkan uang secara cepat, tidak langsung terserap industri, dan karena itu dianggap kurang relevan.
Padahal, justru dari wilayah inilah lahir hampir seluruh lompatan besar peradaban.
Teknologi yang hari ini menjadi tulang punggung kehidupan modern—mulai dari internet hingga kecerdasan buatan—berakar dari riset dasar yang pada awalnya tidak memiliki nilai ekonomis yang jelas. Ia tumbuh dari rasa ingin tahu, bukan dari permintaan pasar.
Di titik ini, kebijakan penutupan prodi menyimpan risiko yang lebih besar dari sekadar efisiensi: penyederhanaan fungsi pendidikan itu sendiri.
Jika perguruan tinggi hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan industri jangka pendek, maka ia perlahan kehilangan perannya sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan. Dalam jangka panjang, negara berisiko kehilangan kapasitas untuk menciptakan inovasi.
Kita tidak lagi menjadi produsen gagasan, melainkan konsumen.
Tidak lagi mencipta, tetapi membeli.
Namun demikian, bukan berarti keterhubungan dengan industri harus diabaikan. Justru di situlah tantangannya—bagaimana membangun jembatan antara ilmu murni dan kebutuhan praktis tanpa mengorbankan salah satunya.
Menutup prodi mungkin terlihat sebagai solusi cepat. Tetapi membangun ekosistem yang menghubungkan riset, pendidikan, dan industri adalah solusi yang lebih berkelanjutan.
Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu dijawab bukan sekadar prodi mana yang relevan hari ini, tetapi: arah seperti apa yang ingin dibangun oleh pendidikan tinggi kita?
Karena bangsa yang besar tidak hanya menyiapkan tenaga kerja untuk hari ini, tetapi juga menyiapkan pemikiran untuk masa depan.
