Di suatu negara yang aneh, logika sering kali berjalan terbalik.
Negara ini disebut tropis, tanahnya subur, matahari bersinar sepanjang tahun. Tapi anehnya, buah-buahan justru terasa mahal di kantong rakyatnya. Di tempat yang katanya bisa menanam apa saja, menikmati hasil bumi sendiri malah jadi kemewahan.
Negara ini juga dikenal sebagai negara maritim, lautnya luas, garis pantainya panjang. Namun ikan, yang seharusnya menjadi makanan paling dekat dengan rakyatnya, justru tidak selalu murah. Di negeri yang dikelilingi air, hasil laut kadang terasa seperti barang impor.
Ia juga produsen besar minyak kelapa sawit. Dunia mengenalnya sebagai raksasa CPO. Tapi ketika minyak goreng dibutuhkan di dapur rumah tangga, harganya bisa melonjak tak terkendali. Seolah-olah rakyat harus bersaing dengan pasar global untuk sekadar menggoreng makanan.
Negara ini kaya sumber daya alam. Batu bara, gas, hingga berbagai mineral ada di perut buminya. Tapi listrik dan bahan bakar tetap menjadi beban bagi sebagian masyarakat. Kekayaan alam tidak selalu berarti kemudahan hidup.
Negara ini menyebut dirinya negara hukum. Tapi di banyak kasus, hukum baru terasa bergerak ketika sebuah persoalan menjadi viral. Seolah keadilan menunggu sorotan, bukan berdiri atas prinsip.
Negara ini pernah membanggakan swasembada pangan. Namun beras, sebagai makanan pokok, tetap saja bisa mahal. Ketahanan pangan yang sering disebut dalam pidato tidak selalu terasa di meja makan.
Negara ini juga menjunjung prinsip bebas aktif dalam politik luar negeri. Tapi dalam praktiknya, kadang terlihat ikut arus kekuatan besar. Idealisme dan realitas berjalan dalam dua jalur yang berbeda.
Dan negara ini dikenal religius. Nilai-nilai moral sering dikedepankan dalam kehidupan publik. Namun kasus korupsi tetap terjadi, bahkan di tempat-tempat yang seharusnya menjadi simbol integritas. Ironi yang sulit dijelaskan, tapi nyata dirasakan.
Semua ini tentu bukan sekadar kebetulan. Banyak yang melihatnya sebagai cerminan dari sistem yang belum sepenuhnya berpihak pada rakyat. Ketika kebijakan lebih dekat dengan kepentingan jangka pendek, atau bahkan kepentingan pribadi, maka yang muncul adalah ketimpangan yang terus berulang.
Pada akhirnya, pertanyaan yang muncul bukan lagi tentang seberapa kaya sebuah negara, tetapi tentang seberapa adil kekayaan itu dirasakan oleh warganya.
Dan di negara yang aneh ini, rakyat tidak pernah kehabisan satu hal:
pertanyaan.
