Raksasa Tidur di Kaki Kerinci: Potensi Wisata Dunia Solok Selatan Yang Terabaikan?
- account_circle Redaksi
- calendar_month Minggu, 22 Mar 2026
- print Cetak

Solok Selatan, Detik Nagari – Berdiri di tengah hamparan Kebun Teh Liki, salah satu perkebunan teh ortodoks terbesar di Asia Tenggara, seharusnya memberikan rasa bangga yang luar biasa. Ditambah lagi dengan kemegahan budaya di Kawasan Seribu Rumah Gadang (KSRG) yang tidak ditemukan di belahan dunia mana pun. Namun, kenyataan pahit justru terpampang nyata: destinasi kelas dunia ini seolah menjadi “raksasa tidur” yang sepi dari hiruk-pikuk wisatawan.
Bagi masyarakat lokal di Solok Selatan, ketidakhadiran wisatawan bukan sekadar angka statistik yang rendah, melainkan ancaman nyata bagi kelangsungan ekonomi warga. Harapan masyarakat untuk menggantungkan hidup dari sektor pariwisata—seperti penginapan homestay, warung nasi, hingga jasa pemandu—kini terancam sirna akibat minimnya pengelolaan yang serius.
Potensi Luar Biasa yang Tersia-siakan Berdasarkan pantauan langsung Detik Nagari ke beberapa titik ikonik, mulai dari keindahan eksotis Goa Batu Kapal hingga kesejukan Air Terjun Tansi Ampek, terlihat jelas adanya ketimpangan antara potensi alam dengan realitas di lapangan. Tiket masuk yang sangat terjangkau, berkisar antara Rp5.000 hingga Rp10.000, ternyata tidak cukup kuat untuk menarik minat jika perjalanan menuju lokasi dirasa sangat melelahkan dan fasilitas pendukung yang ada tampak terbengkalai.
Sangat disayangkan, daerah dengan kekayaan alam dan budaya sehebat ini harus “kalah saing” dengan daerah lain hanya karena masalah klasik yang tak kunjung usai: aksesibilitas dan manajemen pengelolaan yang belum profesional.
Sinergi Lintas Lini: Kunci Membangkitkan Raksasa yang Tidur
Membangkitkan pariwisata Solok Selatan bukanlah tugas yang bisa dipikul sendirian oleh masyarakat lokal. Dibutuhkan sinergi kuat serta keberanian politik dari para pemangku kebijakan, mulai dari tingkat Nagari sebagai garda terdepan hingga ke level Pemerintah Pusat. Pemerintah Nagari harus mulai berani mengalokasikan dana desa secara tepat sasaran, seperti penguatan peran Pokdarwis, perawatan rutin destinasi, hingga penyediaan fasilitas dasar yang layak demi kenyamanan wisatawan. Di sisi lain, Pemerintah Daerah, baik tingkat Kabupaten maupun Provinsi, memegang kunci utama pada perbaikan infrastruktur jalan yang menghubungkan Padang Aro dengan pusat kota. Tanpa akses jalan yang mumpuni, kalender acara semenarik apa pun hanya akan menjadi seremonial tahunan yang minim dampak ekonomi bagi rakyat.
Lebih jauh lagi, status Kebun Teh Liki sebagai salah satu yang terbesar di Asia Tenggara seharusnya sudah menjadi alasan kuat bagi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) untuk turun tangan memberikan perhatian khusus. Dukungan pusat berupa investasi sarana transportasi dan promosi berskala internasional sangat krusial untuk mengangkat nama Solok Selatan ke peta wisata global. Kehadiran sektor swasta dan investor juga tidak kalah penting; kemudahan izin usaha untuk pembangunan akomodasi berkelas yang tetap ramah lingkungan akan menjadi magnet baru bagi segmen wisatawan menengah ke atas.
Namun, segala upaya fisik tersebut akan sia-sia tanpa adanya transformasi mental dalam pengelolaan digital. Di era modern ini, membiarkan promosi wisata Solok Selatan berjalan secara konvensional adalah sebuah kerugian besar. Minimnya perhatian terhadap konten kreatif di media sosial membuat keindahan “Negeri di Atas Awan” ini hanya menjadi rahasia segelintir orang. Tanpa pengelolaan digital yang tajam dan melek teknologi, aset wisata sehebat apa pun akan tetap terkubur dalam ketidaktahuan, sementara daerah lain melaju kencang meninggalkan potensi besar yang kita miliki.
Kemewahan alam dan budaya Solok Selatan adalah anugerah Tuhan yang seharusnya mampu menyejahterakan rakyatnya. Namun, membiarkan aset berharga ini terbengkalai tanpa perhatian serius dari pemerintah adalah sebuah ironi di tengah upaya pemulihan ekonomi nasional. Tanpa komitmen nyata dan sinergi antar lini, “raksasa tidur” ini akan terus terlelap.
Baca Juga : Di Balik Buru Babi: Risiko yang Tak Ikut Diburu
- Penulis: Redaksi
- Editor: Tim Editorial Detik Nagari

Saat ini belum ada komentar