SOROTAN
Beranda » Kesehatan » Banyak yang Salah! Ternyata Waktu Minum Kopi Bisa Pengaruhi Risiko Kematian

Banyak yang Salah! Ternyata Waktu Minum Kopi Bisa Pengaruhi Risiko Kematian

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month 7 jam yang lalu
  • print Cetak

DetikNagari.id — Bagi pecinta kopi, kebiasaan menyeruput kopi di pagi hari ternyata bukan sekadar rutinitas. Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam European Heart Journal tahun 2025 mengungkap bahwa waktu minum kopi bisa berpengaruh terhadap kesehatan, bahkan hingga risiko kematian.

Penelitian ini dilakukan oleh tim peneliti yang dipimpin oleh Xuan Wang dan melibatkan lebih dari 40 ribu orang dewasa di Amerika Serikat. Data diambil dari program kesehatan nasional dan diamati dalam jangka panjang untuk melihat hubungan antara kebiasaan minum kopi dan angka kematian.

Lebih Baik Pagi daripada Sepanjang Hari

Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang yang rutin minum kopi di pagi hari memiliki risiko kematian yang lebih rendah, terutama akibat penyakit jantung, dibandingkan mereka yang minum kopi sepanjang hari.

Peneliti membagi partisipan ke dalam beberapa kelompok, di antaranya:

  • Kelompok yang minum kopi di pagi hari
  • Kelompok yang minum kopi sepanjang hari
  • Kelompok yang tidak minum kopi

Menariknya, manfaat paling signifikan justru ditemukan pada kelompok peminum kopi pagi.

Bukan Sekadar Kopi, Tapi Waktunya

Dalam temuan tersebut, peneliti menilai bahwa waktu konsumsi kopi kemungkinan berkaitan dengan ritme biologis tubuh atau circadian rhythm. Minum kopi terlalu sore atau malam hari diduga dapat mengganggu pola tidur dan metabolisme, yang dalam jangka panjang berpengaruh pada kesehatan jantung.

Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa studi ini masih bersifat observasional. Artinya, hasil penelitian menunjukkan hubungan, bukan sebab-akibat langsung.

Jangan Salah Tafsir

Belakangan, informasi mengenai penelitian ini ramai beredar di media sosial dengan klaim bahwa minum kopi pagi bisa menurunkan risiko kematian hingga puluhan persen secara pasti. Namun, angka tersebut sebenarnya merupakan hasil interpretasi dan penyederhanaan, bukan angka mutlak yang berlaku untuk semua orang.

Faktor lain seperti pola makan, gaya hidup, aktivitas fisik, hingga kondisi kesehatan tetap menjadi penentu utama.

Tetap Bijak Konsumsi Kopi

Bagi masyarakat, temuan ini bisa menjadi pengingat bahwa kebiasaan kecil seperti waktu minum kopi juga bisa berdampak pada kesehatan. Namun, bukan berarti semakin banyak kopi akan semakin baik.

Konsumsi kopi tetap perlu dibatasi dan disesuaikan dengan kondisi tubuh masing-masing.

“Kopi Pagi, Boleh Saja… Asal Jangan Berlebihan”

Pada akhirnya, minum kopi di pagi hari bisa menjadi pilihan yang lebih sehat dibandingkan mengonsumsinya sepanjang hari. Tapi yang terpenting, tetap jaga keseimbangan pola hidup.

Karena bukan hanya soal kopi, tapi bagaimana kita menjaga tubuh setiap hari..

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • “Gali Lubang Tutup Lubang”: Jeratan Maut Judol dan Pinjol Hancurkan Masa Depan Ekonomi Warga Nagari

    “Gali Lubang Tutup Lubang”: Jeratan Maut Judol dan Pinjol Hancurkan Masa Depan Ekonomi Warga Nagari

    • calendar_month Minggu, 22 Mar 2026
    • account_circle redaksi.detiknagari
    • 1Komentar

    (PADANG, DETIK NAGARI) – Fenomena judi online (judol) dan pinjaman online (pinjol) ilegal kini menjadi ancaman nyata yang merusak tatanan sosial dan ekonomi masyarakat di berbagai Nagari di Sumatera Barat. Maraknya akses teknologi yang tidak dibarengi dengan literasi keuangan yang baik membuat banyak warga terjebak dalam pusaran utang yang tak berujung, bahkan berujung pada tindakan […]

  • Space Tech: The Latest Innovations Propelling Us to New Frontiers

    Space Tech: The Latest Innovations Propelling Us to New Frontiers

    • calendar_month Selasa, 27 Feb 2024
    • account_circle redaksi.detiknagari
    • 0Komentar

    As the timeline of technology perpetually accelerates, 2023 emerges as a testament to human creativity and ingenuity. The realm of gadgets is no longer restricted to mere utility; it’s about amplifying human potential and redefining boundaries. With each passing day, these handheld marvels become an even more integrated part of our daily lives, intertwining with […]

  • Di banyak sekolah, kepemimpinan bukan sekadar jabatan administratif. Ia adalah arah. Ia menentukan ritme kerja guru, budaya belajar siswa, hingga bagaimana sebuah sekolah bertumbuh. Karena itu, posisi kepala sekolah idealnya diisi oleh figur yang definitif—jelas kewenangannya, pasti arah kebijakannya. Namun dalam praktiknya, tidak semua sekolah berada dalam kondisi ideal tersebut. Di sejumlah daerah, termasuk yang tengah berkembang, posisi kepala sekolah kerap diisi oleh Pelaksana Tugas (PLT). Secara konsep, penunjukan PLT bukanlah sesuatu yang keliru. Ia adalah solusi sementara—jembatan ketika terjadi kekosongan jabatan sebelum kepala sekolah definitif ditetapkan. Masalahnya muncul ketika “sementara” itu berlangsung terlalu lama. Secara regulasi, penugasan PLT kepala sekolah memiliki batas waktu yang jelas. Dalam ketentuan yang berlaku, masa tugas PLT hanya diberikan dalam durasi terbatas—sekitar tiga bulan dan dapat diperpanjang sekali, sehingga total maksimal berada di kisaran enam bulan. Artinya, sejak awal, PLT memang tidak dirancang untuk menjadi solusi jangka panjang. Namun di lapangan, cerita yang berkembang sering kali berbeda. Muncul pertanyaan ketika posisi tersebut tetap diisi oleh PLT dalam waktu yang tidak lagi singkat. Ketika masa yang seharusnya bersifat transisi justru menjadi kondisi yang berlarut. Di titik ini, persoalannya bukan lagi sekadar administratif, tetapi mulai menyentuh aspek tata kelola. Kepemimpinan yang bersifat sementara membawa konsekuensi. Seorang PLT, dalam banyak kasus, tidak memiliki keleluasaan yang sama dengan kepala sekolah definitif. Ada batasan dalam pengambilan keputusan, ada kehati-hatian dalam menentukan arah kebijakan, dan tidak jarang muncul keraguan dalam menjalankan fungsi manajerial secara penuh. Dalam jangka pendek, ini mungkin tidak terlalu terasa. Namun dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memengaruhi stabilitas internal sekolah. Guru membutuhkan kepastian arah. Program sekolah membutuhkan kesinambungan. Dan siswa, meski tidak selalu menyadarinya, sangat dipengaruhi oleh bagaimana sistem di sekolah mereka berjalan. Di sisi lain, dinamika dalam proses pengangkatan kepala sekolah juga tidak sederhana. Ada tahapan seleksi, penyesuaian regulasi, hingga proses administrasi yang harus dilalui. Dalam beberapa waktu terakhir, perubahan kebijakan di tingkat nasional juga turut memengaruhi mekanisme pengangkatan kepala sekolah di daerah. Ini menunjukkan bahwa persoalan tidak selalu sesederhana “tidak mau melantik”, tetapi bisa juga berkaitan dengan sistem yang sedang beradaptasi. Namun tetap saja, ketika proses tersebut berjalan terlalu lama tanpa kejelasan, ruang pertanyaan akan selalu muncul. Dalam konteks yang lebih luas, fenomena PLT yang berkepanjangan juga berpotensi memunculkan persepsi di masyarakat. Ketika posisi strategis tidak segera diisi secara definitif, muncul tanda tanya tentang bagaimana sistem bekerja—apakah sudah berjalan sesuai mekanisme, atau justru masih menyisakan ruang-ruang yang belum sepenuhnya transparan. Persepsi ini penting, karena kepercayaan publik terhadap dunia pendidikan tidak hanya dibangun dari hasil, tetapi juga dari proses. Di tengah berbagai upaya peningkatan kualitas pendidikan—mulai dari bantuan bagi siswa, perbaikan fasilitas, hingga peningkatan kompetensi guru—kepastian dalam kepemimpinan sekolah menjadi salah satu elemen yang tidak bisa diabaikan. Karena pada akhirnya, sekolah bukan hanya tentang ruang belajar, tetapi juga tentang sistem yang menggerakkannya. Dan dalam sistem itu, posisi kepala sekolah adalah salah satu poros utama. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menunjuk atau menyimpulkan sesuatu secara sepihak. Namun sebagai refleksi, penting untuk kembali mengingat bahwa setiap kebijakan memiliki tujuan awal—termasuk penunjukan PLT yang memang dirancang sebagai solusi sementara. Pertanyaannya kemudian menjadi sederhana, namun mendasar: Kepala sekolah dan guru mengikuti rapat pendidikan

    Ketika “Sementara” Menjadi Terlalu Lama: Membaca Ulang Fenomena PLT Kepala Sekolah

    • calendar_month Sabtu, 28 Mar 2026
    • account_circle Redaksi
    • 1Komentar

    Detik Nagari – Di banyak sekolah, kepemimpinan bukan sekadar jabatan administratif. Ia adalah arah. Ia menentukan ritme kerja guru, budaya belajar siswa, hingga bagaimana sebuah sekolah bertumbuh. Karena itu, posisi kepala sekolah idealnya diisi oleh figur yang definitif—jelas kewenangannya, pasti arah kebijakannya. Namun dalam praktiknya, tidak semua sekolah berada dalam kondisi ideal tersebut. Di sejumlah […]

  • ulang tahun pt semen padang

    Peringati HUT ke-116, PT Semen Padang Targetkan 300 Kantong Darah untuk Bantu Stok PMI yang Menipis

    • calendar_month Kamis, 2 Apr 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    PADANG, DETIK NAGARI — Dalam rangkaian memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-116, PT Semen Padang kembali menunjukkan kepedulian sosialnya melalui kegiatan donor darah massal. Acara yang digelar di Gedung Serbaguna kompleks perusahaan pada Rabu (01/04/2026) pagi ini menjadi aksi kemanusiaan perdana perusahaan di tahun 2026. Kegiatan ini diikuti antusias oleh ratusan peserta yang terdiri dari […]

  • Gadgets on the Go: Top Tech for Business Travelers

    Gadgets on the Go: Top Tech for Business Travelers

    • calendar_month Selasa, 21 Jan 2025
    • account_circle redaksi.detiknagari
    • 0Komentar

    As the timeline of technology perpetually accelerates, 2023 emerges as a testament to human creativity and ingenuity. The realm of gadgets is no longer restricted to mere utility; it’s about amplifying human potential and redefining boundaries. With each passing day, these handheld marvels become an even more integrated part of our daily lives, intertwining with […]

expand_less