Di tengah munculnya gelombang partai baru pasca Pemilu 2024, dua nama mulai menonjol dengan cara yang sangat berbeda: Partai Rakyat Indonesia (PRI) dan Gerakan Rakyat. Keduanya sama-sama berbicara atas nama rakyat, tetapi lahir dari logika politik yang hampir bertolak belakang.
PRI tampil dengan komposisi yang tidak asing dalam sejarah politik Indonesia. Nama seperti Muhammad Nazaruddin dan Wiranto menunjukkan bahwa partai ini tidak lahir dari ruang kosong, melainkan dari jaringan kekuasaan yang telah lama terbentuk. Dalam konteks ini, PRI lebih tepat dibaca sebagai kelanjutan—bukan pembaruan—dari pola lama yang terus beradaptasi.
Di sisi lain, Gerakan Rakyat hadir dengan narasi berbeda. Ia tumbuh dari relawan yang sebelumnya mengakar dalam gerakan politik berbasis massa, dengan Anies Baswedan sebagai figur sentralnya. Tidak dibangun dari struktur elite, tetapi dari energi kolektif yang mencoba menembus sistem.
Perbedaan ini menciptakan satu pertanyaan mendasar: apakah politik Indonesia sedang bergerak menuju pembaruan, atau justru mengulang pola lama dengan wajah yang berbeda?



