Di Balik Buru Babi: Risiko yang Tak Ikut Diburu
- account_circle Rajo Labuah
- calendar_month Minggu, 29 Mar 2026
- print Cetak

Alek Buru Babi yang digagas Porbi Solsel
Ia disebut warisan budaya. Tapi di balik perbukitan tempat tradisi itu berlangsung, muncul persoalan yang tak lagi sederhana—dari kesehatan publik, konflik sosial, hingga beban ekonomi keluarga.
Padang – Pagi di perbukitan Sumatera Barat selalu datang pelan. Kabut tipis menggantung rendah, menutup sebagian lereng yang masih basah oleh embun semalam. Lalu, seperti aba-aba yang sudah dipahami bersama, suara peluit memecah sunyi. Tak lama, gonggongan anjing bersahut-sahutan. Orang-orang bergerak cepat, sebagian berlari kecil menembus semak.
Buru babi dimulai.
Bagi banyak orang Minangkabau, ini bukan sekadar kegiatan akhir pekan. Ia adalah tradisi lama—bermula dari kebutuhan melindungi ladang dari serangan babi hutan. Dari situ, ia tumbuh, diwariskan, dan menjadi bagian dari cara hidup. Namun waktu berjalan, dan tanpa terasa, ruang tempat tradisi ini hidup pun ikut berubah.
Apa yang dulu murni kepentingan bersama, kini pelan-pelan bergeser. Buru babi tak lagi hanya soal hama dan ladang. Ia juga menjadi ruang berkumpul, ajang unjuk kemampuan, bahkan—dalam beberapa kasus—menggerakkan ekonomi kecil di sekitarnya.
Anjing pemburu, misalnya, kini bukan sekadar “alat bantu”. Ia dirawat, dilatih, diperdagangkan. Harganya bisa jutaan rupiah. Semakin tangguh di lapangan, semakin tinggi nilainya. Di kalangan tertentu, memiliki anjing pemburu unggul bukan lagi sekadar kebutuhan, tapi juga kebanggaan.
Di titik ini, muncul pertanyaan yang jarang dibahas terbuka: dari mana semua anjing itu datang?
Sejumlah cerita di lapangan menyebut, tidak sedikit anjing pemburu didatangkan dari luar daerah, termasuk dari Pulau Jawa. Tidak semuanya, tentu. Tapi sebagian—kata beberapa orang—masuk tanpa dokumen kesehatan yang jelas.
Barangkali ini terdengar sepele. Namun bagi mereka yang bekerja di bidang kesehatan hewan, ini justru titik rawan.
Seorang pejabat di lingkungan kesehatan hewan Sumatera Barat, yang meminta namanya tidak disebut, mengatakan bahwa lalu lintas hewan tanpa pengawasan selalu membawa risiko.
“Perpindahan hewan antar daerah itu seharusnya melalui pemeriksaan dan sertifikasi. Kalau tidak, potensi penularan penyakit seperti rabies tetap ada,” ujarnya.
Ia menambahkan, persoalan rabies bukan semata urusan hewan.
“Ini penyakit yang bisa menular ke manusia. Kalau satu saja lolos tanpa pengawasan, dampaknya bisa luas. Biasanya ini yang kurang disadari,” katanya.
Di tingkat lapangan, kesadaran itu memang belum selalu menjadi pertimbangan utama.
“Yang penting anjingnya kuat,” kata seorang warga, singkat.
Di sisi lain, persoalan muncul dari arah yang tidak selalu terlihat sejak awal. Buru babi yang dulunya bertujuan melindungi pertanian, dalam praktik tertentu justru menimbulkan dampak sebaliknya.
Beberapa petani mulai mengeluh. Aktivitas perburuan yang melibatkan banyak orang dan anjing kerap melintasi sawah. Tanaman yang baru ditanam rusak terinjak. Bahkan yang sudah mendekati panen pun tak jarang ikut terdampak.
“Yang kami jaga berbulan-bulan bisa habis dalam satu hari,” ujar seorang petani di Solok.
Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan, setengah bercanda, setengah pasrah: “Kadang bukan babinya yang bikin rusak.”
Tidak semua perburuan seperti itu. Tapi ketika kejadian serupa muncul berulang, sulit menganggapnya sebagai kebetulan semata.
Persoalan lain, yang lebih pelan tapi terasa, muncul di dalam rumah.
Memelihara anjing pemburu bukan perkara murah. Ada biaya makan, perawatan, waktu, juga perhatian. Dalam kondisi tertentu, beban ini mulai terasa di keluarga.
Seorang warga menggambarkan situasi itu dengan nada getir:
“Mamandian anjiang namuah duo kali sahari, nan inyo bia mandi sakali tigo hari.”
(Memandikan anjing mau dua kali sehari, sementara dirinya sendiri mandi tiga hari sekali.)
Warga lain menimpali dengan cerita yang tak jauh berbeda:
“Manolong mamandian anaknyo, haramnyo ka namuah. Kok anjiangnyo, patang jo pagi dimandiannyo.”
(Untuk membantu memandikan anaknya saja enggan. Tapi kalau anjingnya, sore dan pagi dimandikan.)
Kalimat-kalimat itu terdengar seperti gurauan. Orang mungkin tertawa saat mendengarnya. Tapi di baliknya, ada kegelisahan yang nyata.
“Kadang yang dipikirkan duluan makan anjing,” kata seorang warga lain, pelan, “baru kebutuhan di rumah.”
Barangkali tidak banyak. Mungkin juga tidak semua. Tapi cerita-cerita seperti ini muncul lebih dari sekali.
Seorang pengamat sosial melihatnya sebagai tanda perubahan.
“Ketika sesuatu yang awalnya fungsional berubah menjadi simbol atau gaya hidup, di situ mulai muncul gesekan,” ujarnya.
Di titik ini, buru babi menjadi sesuatu yang lebih rumit dari sekadar tradisi. Ia membawa banyak lapisan—budaya, ekonomi, kesehatan, hingga relasi sosial yang tidak selalu terlihat di permukaan.
Di satu sisi, ia ingin dipertahankan sebagai bagian dari identitas. Di sisi lain, ada konsekuensi yang makin sulit diabaikan.
Pagi terus berganti. Di perbukitan itu, peluit masih ditiup, anjing masih dilepas, dan orang-orang masih berlari mengikuti arah yang sama seperti dulu.
Tradisi itu belum hilang.
Hanya saja, kini ia berjalan dengan beban yang berbeda—dan mungkin, dengan pertanyaan yang semakin sulit dihindari: sampai di mana ia bisa terus dipertahankan, tanpa meninggalkan masalah baru di belakangnya?
Simak Juga : Ketika Dendang Tak Lagi Berkisah: Hilangnya Kaba dalam Ingatan Minangkabau
- Penulis: Rajo Labuah
- Editor: Tim Editorial Detik Nagari

Saat ini belum ada komentar